Written by Ririn Oscarin
“Goooooaaalll!”
Terdengar teriakan membahana di salah satu cafe di Somerset pada saat pertandingan Argentina melawan Jerman yang ditayangkan pada tanggal 3 Juli 2010. Sindrom World Cup yang ditayangkan selama 4 tahun sekali ini kembali terjadi di tahun ini. Demam bola, dari yang tidak tahu permainan bola, atau hanya sekedar ikut menghebohkan piala dunia supaya kelihatan eksis menjadi momen paling penting untuk 1 bulan ini. Rasa nasionalisme, kebersamaan dan detik-detik menantikan serunya sebuah pertandingan bola selama 90 menit menjadi daily activities untuk setiap warga di dunia termasuk di Singapura.
Dengan adanya event World Cup, banyak orang yang merelakan waktunya untuk duduk selama 90 menit di depan televisi menyaksikan pertandingan seru. Para pekerja, pelajar maupun orang-orang yang melewati sebuah tempat yang menanyangkan pertandingan akan berhenti sejenak, dan dengan seriusnya terbawa ke suasana World Cup tersebut. Bahkan ada yang menyempatkan diri untuk pergi ke restaurant, kopitiam dan sejenisnya untuk menonton bersama teman-teman, atau biasa disebut dengan “Nonton Bareng”.
Nonton bareng menjadi agenda penting di waktu Piala Dunia berlangsung, apalagi jika pertandingan yang ditayangkan adalah game ‘big-match’. Biasanya restoran-restoran akan dipenuhi dengan orang-orang pecinta bola, atau yang hanya sekedar untuk membela negara kesayangan mereka. Kebersamaan, keceriaan, dan saling merasakan ketegangan di menit-menit terakhir adalah beberapa alasan mengapa ‘Nonton Bareng’ alias nobar sangat dinikmati.
Mohammad Akbar Pahlevi, ketua divisi Publikasi Marketing PPIS (Persatuan Pelajar Indonesia di Singapura) mengatakan bahwa esensi nonton bareng dengan nonton sendiri itu berbeda. “Ramai, heboh, ketimbang nonton sendiri dirumah,” katanya sewaktu diwawancarai. Pernyataan Akbar pun disetujui oleh Laras Probo, seorang ketua Divisi Commerce PPIS yang mengatakan, “Jauh lebih asik daripada nonton sendiri, kalau nonton bareng dan tim kita menang, kita bisa teriak-teriak sampai puas, kalo nonton sendiri lalu teriak-teriak nanti orang laen bakal pikir kita gila, dan pastikan kita menjagokan tim yang bakal menang (kalau kalah harus siap dihina oleh teman)”.
Suasana nonton bareng oleh anggota PPIS sangat heboh dan seru. Terlihat dari berbagai ekspresi muka tanda kemenenangan pada waktu sebuah gol tercipta, ada beberapa yang berdiri sewaktu detik-detik menegangkan, ada yang memasang muka serius, muka kaget, muka marah dan emosi ketika gawang tim yang didukung kebobolan oleh tim lawan. Para penonton pun tidak kalah menjadi komentator dadakan dengan mengkritik permainan, strategi, pemain dan bahkan wasit. Keceriaan sekaligus kekecewaan berbaur menjadi satu di setiap pertandingan, disamping itu kita bisa sekaligus melihat sifat asli anggota-anggota PPIS di luar rapat-rapat formal atau event-event tertentu.
Serunya nonton bareng World Cup selalu disertai dengan agenda makan-makan dan jalan-jalan untuk mencari tempat menonton bola. Dari Orchard Road, Somerset, Holland Village hingga Clarke Quay pun sudah disinggahi oleh para pecinta bola di komunitas ini. Didukung dengan makin serunya pertandingan menuju 8 besar, makin seringlah agenda nonton bareng yang direncanakan oleh anggota PPIS. Ingin tau serunya dan hebohnya para pecinta-pecinta bola di PPIS? Pastikan kamu hadir disetiap agenda-agenda nonton bareng mereka.
Photography by Mohammad Akbar Pahlevi

















