Foto: radityadika.com

Oleh Anastarsia Hartanto

Tanggal 24 Desember 2011 lalu, Gramedia di seluruh Indonesia digemparkan oleh buku baru Raditya Dika. Para penggemar buku dari penulis kocak ini pasti sudah bikin tanda di kalender mereka dan langsung menyerbu Gramedia terdekat: nggak sedikit yang keburu kehabisan bukunya! Sama seperti judul-judul buku sebelumnya yang cukup unik, judul buku kali ini nggak kalah unik, yaitu “Manusia Setengah Salmon”. Kayak apa sih bukunya? Liat yuk!

Senada dengan judulnya, cover buku ini adalah foto wajah sang penulis, Raditya Dika, dengan mulut terbuka menirukan ikan salmon. Buku setebal 258 halaman ini terdiri dari 19 bab. Jika buku sebelumnya, “Marmut Merah Jambu”, lebih banyak menceritakan tentang pengalaman jatuh cinta, maka “Manusia Setengah Salmon” adalah kebalikannya. Buku ini banyak menceritakan tentang kepindahan. Mulai dari pindah hati, sampai pindah rumah. Di bawah ini adalah petikan dari bab “Sepotong Hati di Dalam Kardus Cokelat” yang pasti akan membekas di hati para pembaca:

“Mungkin itu masalahnya, pikir gue. Seperti rumah ini yang jadi terlalu sempit buat keluarga kami, gue juga menjadi terlalu sempit buat dia. Dan, ketika sesuatu sudah mulai sempit dan tidak nyaman, saat itulah seseorang harus pindah ke tempat yang lebih luas dan (dirasa) cocok untuk dirinya. Rumah ini tidak salah, gue dan dia juga tidak salah. Yang kurang tepat itu bila dua hal yang dirasa sudah tidak lagi saling menyamankan tetap dipertahankan untuk bersama.

Mirip seperti gue dan dia.

Dan dia, memutuskan untuk pindah.”

Bab-bab lainnya juga membuat kita berpikir dan merenung sejenak tentang kehidupan ini. Seperti dalam bab “Kasih Ibu Sepanjang Belanda” yang menceritakan saat Radith sekolah di Belanda selama dua minggu dan kenalan sama teman bernama, ehm, Perek. Awalnya, dia merasa terganggu dengan nyokapnya yang terlalu perhatian dan khawatir berlebihan. Tapi akhirnya dia belajar dan menyadari bahwa, “Sesungguhnya, terlalu perhatiannya orang tua kita adalah gangguan terbaik yang pernah kita terima.”

Meskipun buku ini mengandung banyak cerita bermakna, tetapi juga tetap ada banyak cerita yang memancing gelak tawa. Seperti cerita antara Radith dan supir barunya yang bau badan dalam cerita “Bakar Saja Keteknya”. Atau cerita “Ledakan Paling Merdu” tentang bapaknya Radith yang suka melakukan ritual senam kentut untuk mengeluarkan gas dari dalam perut:

“Bunyi kentut Bokap juga bervariasi dari hari ke hari. Bunyi yang lazim terdengar adalah ‘pret’, tetapi di hari yang baik, Bokap bisa mengeluarkan bunyi ‘piyuuuuuuut’ yang panjang.

Terkadang, kalau lagi kuat banget, kentut Bokap akan berentet seperti senapan mesin yang menghabisi satu gerombolan mafia: ‘Prepepetprepepetprepetprepeteprepet.’”

Ada juga bab-bab singkat yang sebelumnya pernah dibahas melalui Twitter @radityadika, tapi tetap saja lucu saat dibaca. Contohnya seperti “Akibat Bertanya ke Orang yang Salah Tentang Ujian”, “Hal-Hal untuk Diingat Ketika Kencan Pertama”, “Penggalauan”, atau “Serupa Tapi Emang Beda”. Selain itu, Radith juga mengulas tentang bagaimana kebanyakan proses PDKT zaman sekarang, terutama melalui social network seperti Twitter. Your first date is his/her timeline.

Dan, dalam bab penutup, si penulis kembali mengulas tentang kepindahan. Asal usul judul buku yang unik ini juga terungkap dalam bab terakhir ini. Di sini dia membahas tentang ikan salmon yang setiap tahunnya bermigrasi berkilometer jauhnya, bahkan mempertaruhkan nyawa hanya untuk bertelur. Akhirnya dia berpikir:

“…Ternyata untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, gue gak perlu menjadi manusia super. Gue hanya perlu menjadi manusia setengah salmon: berani pindah.”

Ternyata di balik pemilihan judul yang unik, judul ini mengandung makna yang bisa kita pelajari. Seperti ikan salmon, kita harus berani untuk pindah dan menghadapi segala kemungkinan yang mungkin terjadi. Pindah ke hati yang baru, pindah ke rumah yang baru, pindah untuk menemukan hal yang kita butuhkan. Memang tidak mudah, tapi perpindahan pasti terjadi.

Sama seperti buku-buku karya Raditya Dika lainnya, “Manusia Setengah Salmon” juga sukses menjadi bestseller di Gramedia. In my opinion, buku ini lebih menarik daripada buku sebelumnya, “Marmut Merah Jambu”. Meskipun tetep aja belum bisa menandingi kekonyolan yang diulas dalam buku-buku pertamanya, seperti “Kambing Jantan” atau “Cinta Brontosaurus”. Yang jelas, emosi pembaca bakal dibawa naik turun kayak rollercoaster. Siap-siap aja ketawa, lalu terbawa dalam kegalauan, lalu ketawa lagi.

More on Radar, Uncategorized

A Very Clarke Quay Halloween
For the Love of the Game: ABAS Indonesian Basketball League
Hari Terakhir LIGA 2012: Pertandingan-Pertandingan Sengit Diakhiri dengan Pembagian Medali