Posted by Diaspora Magazine 2 COMMENTS

written by Joice Vania Gumala. Photography by Yong Chuen Siang

“Dateng GAYA ngga loe?”

“Mau banget tapi KEHABISAN TIKET!”

Menjelang 24 Januari, pembicaraan seperti ini pasti sering terdengar. Tentu saja, semua orang antri untuk mendapatkan tiket masuk GAYA 2010 – The Tale of Sitti Nurbaya- yang dijual seharga S$18. Apa sih yang membuat mereka sangat tertarik untuk menonton GAYA 2010?

Hari yang ditunggu telah tiba. Berlokasi di NAFA Lee Foundation Theatre, pertunjukan yang dilangsungkan dua kali dalam hari yang sama ini kebanjiran banyak penonton, terutama mahasiswa dari SMU sendiri, NUS, NTU dan sebagainya. Lampu mulai meredup dan penonton segera disambut ramah oleh MC GAYA 2010. Tak lama kemudian, sandiwara dimulai.

Selama pertunjukan, penonton dimanjakan dengan tarian-tarian unik serta nyanyian-nyanyian merdu dari pemain GAYA 2010. Berbagai aliran lagu mereka bawakan; mulai dari lagu daerah, seperti Kampuang Nan Jauh Di Mato dan Ayam Den Lapeh, hingga lagu pop. Big applause for Sederhana Band as the musicians! Tidak heran, penonton betah duduk diam dan menonton cerita cinta segitiga Sitti Nurbaya (Suriyanti), Samsul Bahri (Kevin C. Diego) dan Datuk Maringgih (Dennis Laurentius).

Tidak hanya ketiga pemeran utama dari GAYA 2010, pemeran-pemeran pembantu seperti Baginda Sulaiman (Aswin Andrianto), Pendekar Lima (Febbry Lasgon),  Arifin (Daniel Trisno), Sitti Maryam (Emerra Aisha) dan pemeran lainnya pun berkontribusi besar dalam kesuksesan GAYA 2010. Penonton mengaku semua pemain memiliki kualitas akting yang sama bagusnya. Jika melihat tarian-tarian yang dibawakan dengan sangat sempurna, pasti pemain-pemain GAYA bekerja keras dan sangat berdedikasi untuk GAYA 2010. Kebayang deh gimana capeknya mereka latihan untuk GAYA 2010. Semua kesuksesan ini tentunya didukung juga oleh scriptwriters (Putra Muskita dan Siti Fatimah Ayuningdyah) kocak yang dapat membuat drama menjadi lebih segar.

Jadi, apa ya yang membuat GAYA 2010 itu berbeda dari acara-acara serupa di universitas lainnya? “Artistically semua punya direction yang berbeda dan kelebihan masing-masing. Sebenernya semuanya itu saling melengkapi. Seperti budaya Indonesia yang banyak dan beragam; setiap karya anak-anak Indonesia di Singapura itu unik, tapi tetap satu. Bhinneka Tunggal Ika.” oceh Kevin Kristian sebagai director IAF dan juga salah satu penonton GAYA 2010.

Tentu GAYA 2010 tidak lepas dari kekurangan, seperti kurangnya penghayatan pemain saat mencapai klimaks drama. Namun, secara keseluruhan GAYA 2010 mampu membuat penonton keluar gedung (setelah sandiwara selesai konteksnya) dengan perasaan puas. Suksesnya GAYA 2010 juga tak lepas dari kerja keras Executive Producer GAYA 2010, Helen Wijaya.

So, gimana guys? Buat yang nonton GAYA, puas dengan hasilnya? Buat yang tidak nonton tahun ini, jangan lupa nonton tahun depan!

“Untuk teman-teman semua, ayo berpartisipasi untuk acara-acara budaya lainnya! We need your talent to send a message, to make an impact!”

[cincopa 10552447]

categories: Kampus





About Us

Hey Diaspora! This is the place for misplaced and displaced young Indonesians who are living on a tiny island-nation in Singapore. Diaspora is a bilingual magazine updated virtually everyday, filled with our lives, our hopes, our opinions and our thoughts.