Oleh Nico Theodorus

Music Matters kemarin menjadi panggung pertama yang ditaklukan Nidji di Singapura. Bagaimana kesan grup musik yang namanya merupakan variasi dari “niji”–bahasa Jepang untuk “pelangi”– tentang tampil di Singapura? Simak hasil wawancara Nico dari tim Hey! Diaspora dengan Giring Ganesha, vokalis band ternama yang sosoknya tidak asing lagi ini.

PERTUNJUKAN DI SINGAPURA

  • Nidji pasti sudah sering jalan-jalan ke Singapura, tapi kemarin baru tampil live pertama kalinya di sini. Bagaimana ceritanya Nidji bisa manggung di Singapura?

Nidji bisa main di Music Matters LIVE 2012 di Singapura kemarin berkat kerjasama antara dua label kami di Indonesia dan di Australia. Sebetulnya kami juga sekalian pre-launch album kami yang berjudul VICTORY. Jadinya ya, kami jualan juga karena kebanyakan yang datang ke Music Matters adalah para pelaku musik internasional.

  • Bagaimana rasanya setelah tampil live di Singapura? Apakah antusiasme penonton sesuai harapan Nidji?

Kami nggak pernah menyangka, ternyata antusiasme Nidjiholic di Singapura luar biasa. Kalau boleh jujur, kemarin saya grogi banget. Selain manggung di depan penonton non-Indonesia, Nidji harus manggung tanpa set up yang semestinya. Tetapi untungnya, setelah melihat betapa antusiasnya penonton, semua grogi saya langsung hilang. LANGSUNG HAJAR! Hahaha.

  • Saya perhatikan, Nidji banyak membawakan lagu-lagu dengan bahasa Inggris. Bahkan, hamper seluruh set list dipenuhi lagu berlirik Inggris, seperti Shadows dan Heaven. Kenapa kalian tidak menyanyikan hits-hits yang berbahasa Indonesia saja, seperti Biarlah, Hapus Aku atau Indahnya Cinta?

Tujuan kami ke sini adalah jualan dan memperkenalkan Nidji ke pelaku industri musik internasional. Mudah mudahan jalan kami untuk bisa go international semakin terbuka setelah Music Matters kemarin. Doakan dan bantu Nidji di Singapore ya, guys!

  • Single baru Nidji, “Hold Up”, liriknya inspirasional sekali. Katanya, Nidjiholic Singapura menjadi pendengar pertama lagu baru ini. Kapankah single ini akan dirilis di Indonesia?

Iya, betul. Lagu tersebut akan dirilis sebentar lagi di iTunes dan juga di Indonesia.

  • Selama Nidji di sini, sudah sempat jalan-jalan ke mana saja? Apakah ada tempat yang berkesan?

Hampir semua tempat di Singapura mengesankan. Saya bingung. Jarak antara Singapura dengan Indonesia sangatlah dekat, tetapi mengapa kok Singapura bisa jauh lebih maju daripada Indonesia. Sejujurnya, saja terkesan sekali dengan MRT di sini, hahaha. Makanya setiap kali saya ke Singapura bersama Istri, kami jarang banget naik taxi. Kami selalu menikmati MRT, dan membuktikan apakah kereta datang tepat sesuai waktu yang dijanjikan. Ternyata benar! Hahaha.

INSPIRASI BERMUSIK

  • Tidaklah mungkin menyebut hits-hits Nidji tanpa mengingat lagu “Laskar Pelangi”. Nidjiholic di sini kemarin senang sekali waktu lagu ini ditampilkan di Forbidden City. Apa yang menjadi inspirasi dalam penciptaan lagu ini?

Saya ciptakan lagu Laskar Pelangi ketika umur saya 25 Tahun. Waktu itu Nidji sudah masuk ke industri musik selama kurang lebih 3 tahun. Allhamdulilah, Laskar Pelangi dapat diterima dengan baik oleh penikmat musik Indonesia.

Saat itu, saya sedang terkena star syndrome. Bayangkan, di umur 25 tahun, uang tabungan saya tiba-tiba dari hanya ratusan ribu rupiah menjadi ratusan juta. Saya bisa mendapatkan sex dengan mudah, alkohol menjadi teman baik saya dan popularitas menjadi tameng kesombongan saya. Tetapi, entah mengapa, hidup saya terasa amat sangat kosong dan tidak bahagia. Tiba-tiba, ibu saya memberikan buku karya Andrea Hirata yang berjudul Laskar Pelangi. Beliau berkata “Giring, baca ini buku! Kamu itu semestinya bersyukur karena hidup kamu sangat beruntung. Ini anak anak (para laskar pelangi) mau sekolah aja susah banget.”

Setelah saya baca buku itu, saya tergugah dan menangis. Saya merasa saya manusia paling sombong karena tidak bisa bersyukur. Di suatu pagi di bandara Ngurah Rai, saya bilang ke teman-teman Nidji bahwa seandainya buku Laskar Pelingi dijadikan film, Nidji harus mengisi soundtrack-nya. Teman teman saya hanya mengangguk angguk sambil mengantuk. Dua hari kemudian mimpi saya menjadi kenyataan. Mira Lesmana menelepon saya dan menanyakan apakah Nidji mau mengisi soundtrack film Laskar Pelangi; padahal mbak Mira nggak tahu bahwa saya sudah baca buku itu, dan saya juga nggak tahu Laskar Pelangi sedang diangkat ke layar lebar.

Luar biasa. sampai sekarang saya masih terkesima oleh bagaimana ini semua bisa terjadi.

  • Bagaimanakah cara Nidji bertahan di pasar musik Indonesia? Sekarang, apakah rencana Nidji agar musik kalian tetap digemari Nidjiholic dan juga menjaring penggemar baru?

Kami sudah bertahan selama 10 tahun tanpa ganti personil sekali pun. Cara untuk menjaga kekompakan ialah memiliki visi yang sama, toleransi, dan memperbanyak “ngebanyol”. Why so serious ? Seperti main musik saja. Let it flow and have fun.

Cara kami menjaring penggemar baru adalah dengan menjelajahi musik-musik baru yang cocok dengan benang merah kami. Saya rasa, tidak terlalu sulit mendapatkan penggemar baru. Mereka hanya tinggal nonton kami saja karena kekuatan Nidji berada di live performance. Yang susah ialah mempertahankan fans kami. Salah satu caranya adalah memanfaatkan social media sebagai alat untuk memaksimalkan interaksi dengan penggemar.

  • Apakah ada 1 kata yang bisa mewakili musikalitas Nidji?

Tidak akan pernah ada satu kata untuk mewakili sesuatu. Apalagi mewakili musik yang kami mainkan. Yang jelas kami hanya ingin jujur bermain musik.

  • Apakah pesan-pesan Nidji untuk musisi-musisi muda Indonesia?

Jujur dalam bermusik. Itu saja. Tanpa kejujuran, tidak mungkin musik bisa dimainkan. Musik itu seperti cinta, harus datang dari dalam hati.

 

KEHIDUPAN PRIBADI

Giring Nidji dengan pewawancara Nico Theodorus.

 

  • Nidji, terutama Giring, sudah dikenal sebagai musisi yang berani tampil beda. Sejak 6 tahun lalu, penggemar sudah tergelitik melihat gaya Giring yang unik. Apakah sehari-hari Giring memang seperti itu; nyentrik dan gokil?

Sehari-hari saya adalah seorang ayah yang mengantar anaknya ke sekolah setiap pagi. Saya juga seorang businessman untuk Nidji dan KINCIR.com. Yang nyentrik hanyalah pembawaan saya. Waktu saya menemani anak pertama saya, Zidane, menonton The Avengers, saya sengaja ke bioskop memakai topeng Iron Man. Anak saya memakai helm Thor, dan keponakan saya memakai topeng Hulk. Satu bioskop terbingung bingung. Hahaha. Umur itu hanyalah angka, tapi jiwa muda selamanya.

  • Kalau sedang tidak sibuk tur dan ada waktu luang, selain bermusik, apa saja hobi Giring?

Hobi saya sekarang ialah main game, baik di iPhone atau di PS3. Bila tidak, saya ke kantor untuk mengurus Kincir.com.

  • Apakah Giring punya pesan-pesan lain untuk Nidjiholic dan pembaca Diaspora di Singapura?

Dukung Nidji, ya! Dan tolong promosikan kami ke semua kolega kalian di Singapura. Thank you and God bless Indonesia.

More on Radar, Uncategorized

"Maha Brata" - Indonesian Arts Festival
Destination: Cambodia, Off the Beaten Path
Singapore Restaurant Week 2013