Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Flickr button
Posted by ari 1 COMMENT

ditulis oleh Daniel Kevin Kristian

Indonesian Arts Festival (IAF), festival seni yang diadakan setiap dua tahun di Singapura, mencapai level kedewasaan yang lebih tinggi  di umurnya yang keempat. Kalau biasanya hanya diadakan satu hari saja, kali ini festivalnya tersebar dalam empat acara besar dari antara tanggal 21 Februari sampai 13 Maret.

Salah satu highlight utama dari IAF 4 adalah Indonesian Film Screening. Menyadari bahwa pertumbuhan film nasional sangat amat beragam dan luar biasa cepat, produser dan tim IAF berusaha membawa film-film dari Indonesia ke Singapura. Tujuannya tak lain dari mencoba memperkenalkan sedikit budaya Indonesia ke masyarakat lokal, dan sekaligus mengobati kerinduan orang Indonesia yang belajar atau bekerja di Singapura.

Ada 3 screening yang diadakan, semua berlokasi di The Substation.  26 Februari, Jermal akan dimainkan pukul 7.30 malam. 27 Februari, screening kompilasi film pendek akan dimulai pukul 6 sore dan dilanjutkan dengan Selendang Rocker pukul 9 malam.

“Tidak mungkin mengcover semua genre film yang tengah berkembang di Indonesia, jadi kami berusaha membawakan spektrum seberagam mungkin,” ungkap Agnes Christina selaku produser IAF.

Jermal, misalnya, menceritakan tentang seorang seorang ayah dan anak yang tidak pernah bertemu selama 12 tahun. Mengambil setting tempat di sebuah jermal (platform menangkap ikan di tengah lautan),  film ini menjanjikan eksposisi kaum ekonomi lemah di Indonesia, dengan sentuhan melodramatis yang kuat. Dengan Didi Petet sebagai salah satu pemeran utama, film ini bisa menjadi representasi kemajuan dunia akting Indonesia.

Kumpulan film pendek dan Selendang Rocker masing-masing juga membawa nuansa yang berbeda, menambah kekuatan pada seleksi film yang ditampilkan. Salah satu dari film pendek yang ditampilkan adalah CINtA, yang merupakan inspirasi untuk film panjang cin(T)a yang trailernya sempat menggemparkan komunitas Indonesia di Youtube, Facebook, dan Twitter. Kejujuran film ini tentang divisi antar suku dan agama di Indonesia berbicara banyak tentang falsafah negara kita: Bhinneka Tunggal Ika.

Dan memang itulah satu hal yang ingin dibawa IAF 4 kepada semua yang menyaksikannya. Kesadaran bahwa meski kita berbeda, tapi kita tetap satu. Bisa saja orang-orang ini ada di Singapura, tapi mau bagaimanapun juga, hatinya tetap ada di Indonesia. Makanya,ikuti terus IAF 4 dan saksikanlah Indonesian Film Screening, 26-27 Februari 2010!

IAF 4 ada di Twitter, @IAF4 dan di Facebook group http://www.facebook.com/pages/Indonesian-Art-Festival-2010/181374119532?ref=ts

categories: Radar

One Response

  1. admin says:

    Tickets are priced at $8 each.
    Contact Agnes at 92351112 or Saskia at 97578064 for ticket reservation.

Leave a Reply

About Us

Hey Diaspora! This is the place for misplaced and displaced young Indonesians who are living on a tiny island-nation in Singapore. Diaspora is a bilingual magazine updated virtually everyday, filled with our lives, our hopes, our opinions and our thoughts.

Recent Comments