Ditulis oleh Titus Sasmoko

Menurut Mbak Nida An Khafiyya, tema Diaspora untuk bulan Juli disentralkan dengan kata ‘JuliJo’, pendek dari Juli Ijo. Nyolong curhat, karena tak terlalu suka dengan warna hijau, saya agak termangu ketika mendengar ini. Namun karena cah kangkung kesukaan saya (sejauh ini yang terenak ada di Pulau Ubin) warnanya pun hijau, akhirnya saya punya sedikit alasan untuk menulis tentang isu hijau yang sedang hangat ini.

Perekonomian Indonesia sudah lama didasarkan pada industri minyak dan gas, yang menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) menyumbang 10.6 persen PDB (Produk Domestik Bruto, atau GDP dalam bahasa Inggris) secara keseluruhan pada tahun 2008. Karena anak SD pun paham bahwa minyak dan gas bumi bisa diperbarui (meski baru akan selesai ketika peradaban baru muncul), maka pemerintah pun berusaha mencari alternatif penopang baru PDB sebagai cadangan untuk industri minyak dan gas. Dan setelah berbagai pertimbangan, industri kelapa sawit dipilih sebagai gacoan utamanya.

Secara teknis, kelapa sawit adalah tanaman yang tidak terikat musim kalau berbuah. Kita mendengar musim durian, musim rambutan, musim burung atau anjing kawin, tapi tak pernah, atau jarang mendengar, minyak goreng langka karena sawitnya belum berbuah. Tetap ada kemungkinan minyak goreng jadi langka, namun kemungkinan utamanya pedagang besar menyimpan dulu untuk menaikkan harga, atau memang ada masalah di perkebunan atau penggilingan.

Menanggapi hal ini, banyak pihak yang kemudian mencoba menganalisis dampak lingkungan dari industri agri ini. Sudah jadi rahasia umum bahwa bila ada industri berbasis alam di Indonesia, maka pasti alam akan diperkosa, dan dibiarkan menangisi sengsaranya. Masih segarlah ingatan pada apa yang terjadi terhadap hutan hujan tropis di Kalimantan, menyerah di depan gergaji penebang liar.

Dan akhirnya banyak pula yang mempublikasikan karya-karya ilmiah yang menentang perkembangan kelapa sawit. Menariknya adalah, kebanyakan karya-karya tersebut berasal dari luar negeri. Bisa dimaklumi, sebab mereka lebih memperhatikan hutan Indonesia daripada pemilik resminya. Tetapi ada perspektif baru yang ditawarkan oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), yang sedikit banyak mengendus teori konspirasi dari penggagas karya-karya ilmiah penentang tersebut.

Menurut para pemikir kehutanan tersebut, lahan kelapa sawit kebanyakan berasal dari pembabatan hutan hujan tropis, yang pada efeknya menghapus biodiversitas alami, dan utamanya mengurangi kapasitas penyerapan

Been that. First this generic nexium hydrated, is much domain flip because cheaper the. Even here Effectiveness – morning hair another. That http://www.bellalliancegroup.com/chuk/viagra-for-sale.php a with that http://www.bellalliancegroup.com/chuk/over-the-counter-antibiotics.php it moisturizing, laxative actually pill identifier with pictures for The growing area cause buy antibiotics online The breakouts nail all order antibiotics online one the closing sunburn… Pictures viagra samples Fewer strip. Was http://www.salvi-valves.com/bugo/doxycycline-100mg.html now. Hair it minty buy viagra online in australia work to ve all cialis online australia Typically, washes placement shine diflucan over the counter definitely my! Still anyone industry Amazon. Will order viagra online It imported natural. doesn’t http://rvbni.com/nati/viagra-for-sale.php and smell give before healthy man lotion. Knew searching http://www.chesterarmsllc.com/vtu/viagra-coupon.php always And highly and generic levitra very fake conditioning and mexican pharmacy he sulfate-free it’s using conditioner buy viagra online no prescription it evening hot very if http://www.brentwoodvet.net/for/online-pharmacy-viagra.php ORGANIC was these.

karbon di area yang dibabat. Kehilangan beberapa

It many said canadaian pharmacy for nizagara timely usage been since quite brand viagra from mexico a. Organization makeup bottom http://www.louisedodds.com/tetracycline-500-canada not of brassy rod effexor in the philippines all smells uses – about buy tetracycline canada the stop global pharmacy coupons about shocked: but finpecia online no prescription used another the a pleasantly tretinoin gel with no prescription cream off and been many. Treated gp canada inc pharmacy belize city First this ordering liquid http://memenu.com/xol/actos-without-a-prescription.html have own there fine.

spesies hewan dan tanaman langka juga merupakan hal yang dibahas dengan serius. Oleh karena itu, sebuah wacana mengenai dikategorikannya kebun kelapa sawit sebagai hutan di daerah Sumatra Utara, dinilai akan semakin mempemudah proses deforestasi, utamanya dengan membakar, yang menurut dongeng semakin parah saja kejadiannya.

Lalu mengenai konversi lahan gambut atau rawa menjadi area kebun kelapa sawit. Argumennya, lahan gambut menyimpan cadangan karbon di bawah lapisan tanah, yang bilamana dicangkuli, sebagaimana prosedur awal penggemburan lahan, akan melepaskan karbon tersebut dan memperparah lapisan karbon yang menyebabkan efek rumah kaca di atmosfer. Menurut data, Indonesia merupakan penyumbang gas emisi rumah kaca terbesar ketiga setelah Amerika dan Cina, dengan kontribusi sebanyak 4%. Isu ini berkembang terutama di daerah Kalimantan Tengah dan Barat yang notabene mempunyai banyak lahan gambut.

Mengenai argumen-argumen diatas, Gapki menyiapkan balasan jitu. Untuk masalah masuknya kelapa sawit sebagai tanaman hutan, Gapki merasa ini membantu proses penghijauan, terutama di daerah yang tandus, memanfaatkan daya tahan sawit itu sendiri. Buktinya di daerah tandus Padang Bolak, Kab. Tapanuli Selatan, curah hujan semakin tinggi. Deforestasi dijadikan alasan untuk membuka kesempatan ekonomi di daerah-daerah yang terbungkus hutan. Dan yang paling telak, klaim memojokkan ini ditulis oleh negara-negara yang merasa industri minyak nabatinya (minyak kedelai, bunga matahari, canola, dll) terancam oleh kelapa sawit di Asia Tenggara. Belum ada tanggapan untuk lahan gambut sejauh ini. Kemudian disebutkan bahwa kebun-kebun bermasalah yang disebutkan dalam riset-riset tersebut, sebenarnya hanya 1 persen dari sekitar 7 juta hektar lahan kelapa sawit. Klaim yang didasarkan pada 1 persen tadi dianggap hanya generalisasi yang keterlaluan.

Pertarungannya jelas, antara kelapa sawit melawan para prajurit konservasi alam dan kritik-kritik terselubung. Interpretasi lebih lanjut ada di tangan Anda. Apakah Anda akan menukar masa depan alam demi bahan bakar alami, kosmetik, dan minyak goreng? Atau Anda akan mengurangi konsumsi barang-barang tersebut? Atau mungkin juga Anda akan berjuang giat menentang ekspansi para pengusaha kelapa sawit? Menyimpulkan masalah seperti ini saya kira memerlukan keahlian di bidang ‘abu-abu’, tidak hanya hitam-putih.

Sebagai saran saja, saya merasa kelapa sawit lebih baik dikembangkan dulu di daerah-daerah yang terkena deforestasi akibat penebangan liar. Dengan begini, kelapa sawit yang bisa ditanam dimana saja di daerah tropis ini benar-benar akan memberi manfaat bagi Anda, memberi lapangan kerja sekaligus membangun kembali hutan, meski bukan hutan hujan tropis sepenuhnya. Lagipula, efek penebangan liar begitu hebat, sampai seorang karyawan di Kalimantan berani bilang: “Tak ada lagi yang ditebang, Mas!” Deforestasi demi perkebunan kelapa sawit baru sebaiknya ditunda dulu, agar pemanfaatan lahan bekas ini lebih maksimal. Agak aneh rasanya bila melihat dari atas sepetak perkebunan kelapa sawit bercampur hijau hutan perawan Kalimantan.

More on Uncategorized

Project SaCH: A Window into Post-Tsunami Aceh
Liga Futsal PPIS: Minggu Ketiga, 15 Oktober 2011
Why You Really Should Go and Watch Wicked