Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Flickr button
Posted by farid ADD COMMENTS


image courtesy of ~itsyouforme

Ditulis oleh Liana Wibowo

Mulai dari Friendster hingga Twitter, dalam kurun waktu lebih dari lima tahun, dunia sosial remaja Indonesia sudah dibanjiri dengan hadirnya berbagai situs sosial media. Hingga sekarang, menurut The Jakarta Globe, Indonesia adalah negara di Asia dengan penyumbang tweet (sebutan ‘pesan’ dalam Twitter) terbanyak, dan meraih posisi keenam penyumbang terbesar (2.41 %  pengguna Twitter) di dunia.

Dengan meningkatnya tren sosial media diatas, dapat kita ketahui bahwa kini peran sosial media menjadi lebih penting dalam kehidupan kita, orang Indonesia. Jika masalah mengikuti tren, mau tidak mau kita harus terus mengikutinya. Contohnya akhir era Friendster dan awal Facebook, kita harus terus mengikuti alir dimana teman-teman kita berkumpul. Teknologi akan bertambah maju, begitu pula dengan situs jaringan sosial yang akan terus berkembang. Sosial media baik berupa situs, alat, maupun program chatting akan menjadi hal yang penting dalam kehidupan sosialisasi. Jika demikian, apakah rakyat Indonesia banyak yang sudah menjadi “pecandu sosial media”?

CANDU SOSIAL MEDIA DI INDONESIA

“Pecandu sosial media” adalah sebutan bagi orang-orang yang lebih banyak menghabiskan waktunya bersama sosial media daripada orang sekitarnya. Kebanyakan dari mereka menemukan lebih banyak kesenangan dan keasyikan di dunia maya daripada dunia realita. Lalu, kenapa perkembangannya di Indonesia begitu pesat dan lebih dari negara-negara lain?

Indonesia adalah sebuah Negara dengan jumlah populasi terbesar keempat di dunia. Tidak heran jika di ASEAN, negara kita masuk peringkat satu pengguna Facebook terbanyak. Dari peringkat Indonesia yang mencapai dunia ini, dapat disimpulkan secara agak kasar, jika orang Indonesia mempunyai hasrat bersosialisasi lebih tinggi dibandingkan negara lain. Kita selalu ingin menjadi yang paling awal, memiliki yang terbaik dan suka mengikuti pusaran tren dunia. Tren itu bagaikan sebuah pusaran, semakin populer barang itu, semakin banyak orang yang tersedot ke dalamnya. Karena tren sosial media yang berkepanjangan, beberapa di antara kita menjadi tergantung padanya. Akibatnya, mereka telah menjadi pecandu sosial media.

CANDU SOSIAL MEDIA DALAM BENTUK HANDPHONE

Handphone atau yang sering kita sebut dengan HP, dulu tidak menyediakan fasilitas internet. Fungsi alat ini dalam beberapa tahun, dimulai dari adanya kamera, multimedia, MMS, terus bertambah canggih hingga sekarang  hampir menyamai laptop dalam versi kecil. Dengan adanya internet, kita dapat mengakses situs sosial media; malah beberapa merek seperti Blackberry, iPhone dan seterusnya telah menyediakan Messenger tersendiri untuk keuntungan sesama pemakai merek.

Kenapa sih teknologi membuat kita ketagihan? Ada sebuah pepatah mengatakan “Manusia  tidak akan pernah puas dengan apa yang dimiliki.” Contohnya saya sendiri. Kenapa saya beli Blackberry minggu lalu? Pertama, saya diajak adik dan teman baikku untuk  membeli bersama-sama. Sebelumnya, saya heran kenapa banyak teman bilang memakai Blackberry itu seru. Di Indonesia penjualan Blackberry begitu pesat baknya kacang goreng. Mempunyai Blackberry bagaikan memiliki komunitas dan dunia tersendiri.

Sekarang, barulah  saya mengerti rasa ketagihan Blackberry tersebut. Sejak menggunakan Blackberry, saya jadi jarang merasa bosan di tempat kerja. Ada saja yang dilsayakan dan ada saja orang yang kita ajak chatting lewat Blackberry Messenger. Setelah beberapa hari, alat ini juga berefek ke gaya hidupku sehari-hari. Dulunya, di saat makan siang bareng bersama teman sekerja, saya sering mengikuti pembicaraan mereka. Tapi sekarang, mungkin juga karena pengaruh handphone baru, saya lebih sibuk mengutak-atik handphone dan terdengarlah suara-suara “PING” Blackberry yang membuat teman sekerja menegurku. “Kenapa sih kamu jadi sibuk dengan handphone barumu? Begitu banyak SMS ya??” Mendengar teguran tersebut, apalagi yang datang dari desain manajerku sendiri, saya langsung mematikan Blackberryku. Setelah kejadian itu, saya mulai belajar membatasi diri untuk tidak menggunakannya sesering mungkin apalagi di tempat kerja.

Kuyakin pasti banyak dari pengguna Blackberry yang merasakan hal yang sama. Tentu saja keberadaan Blackberry dapat membantu mengisi waktu luang, akan tetapi karena keasyikan, kita jadi terus ketagihan.

CANDU SOSIAL MEDIA DALAM FACEBOOK DAN TWITTER.

Facebook mencapai pusat perhatian lebih dulu daripada Twitter dan sampai sekarang kebanyakan dari teman-teman kita masih menggunakan situs ini. Pernah teman seapartemenku berkata, “Facebook lebih enak ah ketimbang Twitter. Bisa simpan koleksi foto-foto, nggak ada following atau followers dan aplikasi yang bisa dimainin.” Dulunya saya juga berpikir kalau Facebook lebih asyik daripada Twitter. Tapi setelah menggunakannya bersama-sama, keduanya memiliki kesenangan berbeda. Di negara kita, Facebook mengambil peran penting setelah suksesnya Friendster dulu. Dan hingga sekarang, pengguna Facebook di Indonesia lebih banyak daripada pengguna Twitter yang tergolong situs baru. Tetapi, dalam topik candu sosial media ini, kecanduan pada Twitter dapat terlihat lebih jelas dibandingkan Facebook.

Ciri-ciri kecanduan Twitter dapat dilihat ketika kita melihat timeline teman kita. Ada kira-kira tiga hingga empat teman Twitterku yang selalu rajin mengisi lembaran Home di saat saya baru memasuki situs. Profil mereka begitu up-to-date hingga selalu ada yang baru setiap lima hingga lima belas menit. Hampir setiap kegiatan yang mereka lakukan ditulis melalui profil Twitter. Sebenarnya tidak apa-apa kita sering menulis status ataupun berbicara dengan teman-teman kita. Namun, apakah perlu kita mengupdate Twitter kita dalam hitungan menit setiap harinya?

Ciri-ciri lain kecanduan situs media yang lebih lanjut adalah jika tidak menggunakan internet, muncul gejala-gejala stress, kecemasan, mudah tersinggung, bahkan tindakan obsesif pada internet. Tapi begitu kita terhubung dengan internet, gejala tersebut akan hilang atau berkurang.

JADI, APAKAH KITA PENCANDU SOSIAL MEDIA?

Dari topik-topik diatas, dapat disimpulkan bahwa candu sosial  media umumnya terlihat dalam penggunaan Blackberry dan Twitter. Para pecandu Blackberry selalu terlihat asyik bermain handphone dan pecandu Twitter akan sering membuat status baru dalam hitungan menit. Namun, perlu kita ketahui bahwa Facebook, Twitter, Messenger, Blackberry adalah bagian dari hidup kita. Dengan mereka, kita dapat menjelajahi teman-teman, saudara, bahkan dunia, walaupun dikenal dengan dunia maya. Dunia sosial media adalah bagian dari cara kita bersosialisasi. Setelah habis digunakan, kita akan kembali ke realita.

Boleh-boleh saja kita sering menggunakan sosial media. Dengan penciptaan sosial media, kita lebih mudah berinteraksi dengan teman dan memperluas pergaulan. Saya sendiri senang memakai Blackberry dan Twitter. Tapi jika keterusan, dapat berdampak buruk pada produktivitas pekerjaan saya. Dampak negatif dari sosial media bukan hanya akan berakibat pada pekerjaan sekolah, kuliah atau di dunia kerja, tapi juga berdampak pada kesehatan kita. Karena keasyikan hingga di malam hari, waktu tidur kita menjadi berkurang, dan ini dapat mengganggu konsentrasi di hari esok maupun timbulnya penyakit lainnya. Jadi kesimpulannya? “Sosial media dapat digunakan, namun alangkah baiknya jika dipakai secara batasnya agar tidak mengganggu kehidupan sosial, pekerjaan maupun pendidikan kita.”

categories: Perspektif

Leave a Reply

About Us

Hey Diaspora! This is the place for misplaced and displaced young Indonesians who are living on a tiny island-nation in Singapore. Diaspora is a bilingual magazine updated virtually everyday, filled with our lives, our hopes, our opinions and our thoughts.

Recent Comments